Oleh: rindo | April 4, 2009

PANDUAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI GURU

Pemerintah secara resmi telah mencanangkan bahwa profesi guru disejajarkan dengan profesi lainnya sebagai tenaga profesional. Dengan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan karena guru sebagai agen pembelajaran merupakan ujung tombak peningkatan proses pembelajaran di dalam kelas yang akan berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sebuah sertifikat profesi guru yang diperoleh melalui uji sertifikasi. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan sebagai guru profesional.

Proses sertifikasi guru akan segera dimulai setelah rancangan peraturan pemerintah tentang guru dan dosen disyahkan menjadi Peraturan Pemerintah dalam waktu dekat. Namun, persiapan guru untuk mengikuti sertifikasi sudah dapat dimulai. Oleh karena itu, buku panduan pelaksanaan sertifikasi guru ini disusun agar seluruh unit yang terkait dengan pembinaan guru dapat memahami mekanisme dan prosedur pelaksanaan sertifikasi guru.

Semoga buku Panduan Pelaksanaan Sertifikasi Guru ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Silahkan download dan baca buku tersebut selengkapnya di : http://enewsletterd isdik.wordpress. com/2007/ 08/18/panduan- pelaksanaan- sertifikasi- guru/

__._,_.___

Oleh: rindo | April 4, 2009

ACTION IS POWER

ACTION IS POWER
Andrie Wongso

Sebuah pepatah klasik berbunyi: “jien li she ie ik puu” : artinya perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama. Pesan moral dari kata kata mutiara pendek ini adalah tindakan. Memang benar tindakan adalah kekuatan! Action is power!

Kita mungkin punya sebongkah impian indah, segudang rencana, setumpuk ide cemerlang, tetapi semua itu tidak akan menghasilkan apapun, jika kita tidak berani memulai dengan langkah pertama.

Hal ini mengingatkan saya pada ciri-ciri manusia yang menurut saya ada empat tipe tentang teori dan praktek.


Tipe pertama, yaitu
orang yang tidak punya teori sekaligus tidak praktek. Orang seperti ini tidak memiliki semangat dan tidak mau belajar. Kehidupannya tanpa tujuan, tanpa gairah. Hidup hanya dijalani ala kadarnya. Inilah pilihan orang–orang gagal. Mungkin tipe ini menjadi bagian terbesar dari sebuah masyarakat yang tertinggal.


Tipe kedua,
orang yang punya teori tetapi tidak praktek. Inilah tipe orang yang senang mengumpulkan serta menyerap berbagai macam teori. Namun sayang, segudang teori yang dimilikinya, tidak mampu dipraktekan dengan tindakan nyata. Jadi, yang ada hanya teori kosong alias NATO, No Action Theori Only!


Tipe ketiga, yaitu
orang yang tidak punya teori tetapi mampu praktek. Mampu menjalankan seperti yang diteorikan orang lain. Inilah tipe orang yang berorientasi pada tindakan, mau belajar dari pengalaman, teori, maupun kebijaksanaan orang lain. Tipe orang ketiga ini mungkin pada awal melangkah akan mengalami berbagai macam gangguan, kesulitan, bahkan kegagalan. Namun dia menyadari semua itu harus dihadapi sebagai pembelajaran dan pematangan mental. Di sinilah letak para otodidak sejati yang belajar melalui keberanian tindakan.


Tipe keempat,
orang yang punya teori sekaligus mampu memprakteknya. Sudah pasti tipe ini adalah orang yang mantap dan matang mentalnya, karena tertempa oleh banyaknya problem kehidupan yang mampu dikendalikan dan diatasi. Inilah tipe orang sukses yang paling ideal. Tipe orang yang optimis, punya visi, sekaligus berani melangkah.

Ingin menjadi type yang manakah Anda? Semua pilihan tergantung di tangan Anda. Life is not theory. Life is action! Hidup bukanlah teori. Hidup adalah aksi!

Sing tung ciu she lik liang! Action is power! Tindakan adalah kekuatan !!!

Sekali lagi jien li she ie iek puu. Seribu langkah dimulai dengan langkah pertama.


Success is my right!!
Salam sukses luar biasa !!!

Oleh: rindo | April 1, 2009

vedio music minang

Oleh: rindo | Februari 20, 2009

media pembelajaran bio

Oleh: rindo | Januari 31, 2009

We will not go down (Song for Gaza)

Oleh: rindo | Januari 31, 2009

Video hari ini :

Oleh: rindo | Juni 14, 2008

10 Ciri Orang Berpikir & Bersikap Positif

Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti
tahu bahwa hidup kan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir
positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang
‘beredar’ di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya
kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai
mencoba meniru jalan pikirannya.

1. Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang
terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

2. Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar
hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih
baik.

3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala
sesuatu lebih baik.

4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak
Memelihara’ pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa
tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

5. Mensyukuri apa yang dimilikinya
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu,
mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi
si pemikir positif.

7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini
jelas bukan penganutnya. NARO (No Action Review Only), NADO (No Action
Dream Only), NATO (No Action Talk Only), NACO (No Action Concept Only),
NABO (No Action Briefing Only), NAMO (No Action Meeting Olny), NASO (No
Acton Strategy Only)

8. Menggunakan bahasa positif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti “Masalah itu
pasti akan terselesaikan, ” dan “Dia memang berbakat.”

9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif
Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan
tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan
intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’.

10. Peduli pada citra diri
Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga
di dalam.

Seandainya setiap warga Indonesia memiliki sikap2 tersebut. Tidak hanya
menuntut orang untuk memahaminya, tetapi berusaha memahami orang lain. Dan
dengan sikap positif kita, lebih menghargai perbedaan. Pasti akan lebih
indah…

10 kebiasaan buruk yang merugikan otak kita

1. Tidak sarapan pagi
Orang yang tidak sarapan pagi kandungan gula darahnya jadi rendah. Ini mengakibatkan tidak cukupnya asupan nutrisi ke otak yang menyebabkan degenerasi fungsi otak.

2. Terlalu banyak makan

Terlalu banyak makan mengakibatkan pengerasan saluran darah di otak, yang selanjutnya mengakibatkan menurunnya daya pikir.

3. Merokok

Merokok mengakibatkan otak mengecil dan ini bisa menyebabkan penyakit Alzheimer.

4. Mengkonsumsi gula kelewat banyak

Gula yang kelewat banyak berarti menurunnya daya serap protein dan nutrisi penting sehingga kita menderita kurang gizi dan mengganggu pertumbuhan otak.

5. Pencemaran udara

Otak adalah konsumen oksigen terbesar di tubuh kita. Menghirup udara tercemar mengurangi asupan oksigen ke otak, sehingga kerja otak kurang effisien.

6. Kurang tidur

Tidur memberi kesempatan otak kita untuk beristirahat. Kurang tidur secara terus menerus dalam waktu lama akan mempercepat kematian sel-sel otak.

7. Tidur menutup kepala

Tidur dengan kepala ditutup meningkatkan konsentrasi CO2 dan menurunkan konsentrasi O2 dan ini merusak otak.

8. Banyak berpikir waktu sakit

Bekerja keras atau belajar waktu sakit tidak saja mengurangi efektivitas otak tapi juga merusak otak.

9. Tak adanya rangsangan berpikir

Berpikir adalah cara terbaik melatih otak. Kalau otak dibiarkan tanpa rangsangan berpikir, lama kelamaan dia akan mengecil.

10. Jarang bicara

Pembicaraan bermutu akan meningkatkan efisiensi otak.

Oleh: rindo | Agustus 20, 2007

YANG KREATIF DAN BERKILAU

PARA pegawai negeri telah meninggalkan baju safari cokelat. Di lobi kantor pelayanan umum Jembrana, Bali, penampilan seorang petugas front office mendekati teller sebuah bank. Berseragam rok span dan kacu biru, mereka sigap memeriksa bermacam dokumen. Di bawah pendingin ruangan, orang-orang antre, sesuai dengan nomor urut. Sebuah monitor besar menunjukkan nomor orang yang mendapat giliran.

Di kantor itu—sebutan resminya Dinas Inyahud: Informasi, Pelayanan Umum, Perhubungan, dan Data—segala jenis izin dan dokumen penting diterbitkan secara terbuka. Semuanya jelas: ongkos, waktu, dan syarat-syarat, tak ada perbedaan antara aturan dan prakteknya. Situs jembarana.go. id memuat detail informasi seputar kabupaten di ujung barat Pulau Bali itu. Izin usaha, misalnya, keluar dalam sepuluh hari—sepersepuluh rata-rata izin di Indonesia.

”Kalau cuma KTP, tiga hari beres, gratis pula,” kata Dewa Putu Tilem, Kepala Dinas Inyahud, tiga pekan lalu.

Adalah Prof Dr drg I Gede Winasa, 50 tahun, yang berhasil ”menyulap” Jembrana menjadi kabupaten one stop service. ”Sebelum sampai sana, prioritas saya menumpas korupsi,” kata Winasa, Bupati Jembrana yang kini memasuki jabatan periode kedua. Setelah dilantik pada periode pertama tahun 2000, Winasa mengumpulkan ahli dari Universitas Udayana, tokoh masyarakat, dan LSM untuk minta masukan.

Kesimpulannya: perlu tunjangan bagi semua pegawai, dari eselon II-A, yang dijabat sekretaris daerah, hingga pekerja honorer. ”Dulu penghasilan diperoleh sembunyi-sembunyi, sekarang legal,” kata Winasa. Begitu muncul tunjangan, perlahan-lahan pungutan liar sirna. Butuh dua tahun menumpas penghasilan ilegal itu.

Semuanya diawali dengan kondisi serba sempit—serba salah. Winasa mewarisi wilayah berpendapatan cuma Rp 12 miliar dan anggaran (APBD) Rp 269 miliar. Ia berusaha memperbaiki pelayanan publik, tapi dana sebesar itu biasanya habis hanya untuk menutupi kebutuhan rutin. Ia tak berhenti di situ. Langkah pertamanya: menciutkan 13 dinas menjadi tujuh. Dinas yang punya fungsi mirip digabungkan. Inyahud merupakan gabungan tiga instansi. Di luar itu ada juga Dinas Perkutut, yang meliputi pertanian, kehutanan, dan kelautan.

Dari hasil penciutan itu, APBD menghemat Rp 3 miliar setahun. Anggaran proyek disesuaikan dengan harga riil, sehingga separuh dana proyek yang diminta tiap dinas bisa dipangkas. Dana hasil penghematan itu lantas dibelikan premi lewat Jaminan Kesehatan Jembrana. Warga hanya wajib membayar Rp 10 ribu setahun, sedangkan sisanya ditanggung pemerintah—dana awalnya Rp 3,3 miliar yang terus naik mencapai Rp 20 miliar.

Beres dengan kesehatan, ia melangkah ke ranah pendidikan. Kali ini dengan subsidi Rp 90 miliar untuk menggratiskan sekolah, dari SD hingga SMU negeri. Belakangan, pajak sawah juga gratis.

Dan Winasa bergerak terus. Untuk mengatasi 2.500 orang angkatan kerja baru yang lahir setiap tahun, ia menggandeng pengusaha hotel dan peternak sapi dari Jepang. Kebetulan ia pernah tinggal di sana pada 1989-1994, sewaktu mengambil pendidikan keahlian di Hiroshima University. Kini sudah 200 lulusan SMU dikirim setelah diberi pelatihan yang ongkosnya dibayar dengan potongan gaji. Mereka rata-rata mengirim Rp 3 juta sebulan kepada keluarga. Meski begitu, masih ada 6.000 orang—dari 135 ribu orang angkatan kerja—menganggur.

Jembrana melesat cepat. Sebelumnya, ekonomi Jembrana hanya tumbuh 3-4 persen; sekarang telah bergerak dengan kecepatan 7 persen per tahun—mengalahkan daerah lain yang punya anggaran melimpah. Tak aneh, banyak bupati berkunjung ke Jembrana untuk memetik pelajaran. Kini Winasa sedang menularkan kiat-kiatnya kepada istrinya, Ratna Ani Lestari, yang menjadi Bupati Banyuwangi, Jawa Timur.

Jurus jitu yang mirip Jembrana ditempuh Purbalingga. Dengan anggaran hanya Rp 490 miliar, Bupati Triyono Budi Sasongko, 51 tahun, menjadikan kabupaten di barat Jawa Tengah itu loh jinawi. Padahal tak ada retribusi atau kekayaan alam. Purbalingga tak berada di jalur pantai utara Jawa yang ramai. Tapi, di sini tak ada gratisan.

”Tak bagus buat mental masyarakat,” kata Triyo. Bagi-bagi beras untuk keluarga miskin disiasati dengan program padat karya. Setiap empat jam bekerja membuat infrastruktur umum—seperti irigasi atau jembatan—upahnya 2,5 kilogram beras.

Awalnya Rp 2 miliar harus keluar dari APBD untuk membeli beras—di samping Rp 491 juta dari sumbangan warga. Belakangan, duit APBD kian susut dan swadaya justru naik. Cara ini ampuh ketika tahun lalu Indonesia dicengkam paceklik. Beras Purbalingga yang tertahan karena kalah oleh beras impor tetap terserap. Petani tak kehilangan pendapatan, orang miskin tetap bisa makan, infrastruktur juga tergarap. ”Purbalingga memang kreatif,” ini pujian Faisal Basri, ekonom Universitas Indonesia.

Di bidang kesehatan, Triyono juga menerapkan premi. Warga kaya diwajibkan membayar Rp 100 ribu setahun, menengah Rp 50 ribu, dan gratis bagi keluarga miskin. Dari 200 ribu keluarga, 70 persen sudah ikut program ini. Triyono tak membuat rumah sakit mewah dengan fasilitas lengkap. ”Masalah di kabupaten saya soal akses,” katanya. ”Saya pilih mendekatkan pusat kesehatan ke rumah warga.” Kini di tiap desa berdiri satu poliklinik dengan satu dokter dan satu bidan.

Sebelum Jembrana terkenal dengan perizinan satu atap, Purbalingga lebih dulu menerapkannya. Sudah 18 pengusaha Korea dan Cina membuka pabrik rambut dan alis palsu di sana. Industri ini menyerap 26 ribu pekerja.

Wig van Purbalingga itu diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Korea Selatan, dan Timur Tengah senilai Rp 270 miliar per tahun. Meski sumbangan industri rambut terhadap pendapatan asli daerah (PAD) tak terlalu besar, Triyono tak mempersoalkannya. Ia lebih mencatat manfaatnya. ”Satu bulan gaji pekerja itu Rp 13,5 miliar, tak sanggup kalau ditanggung pemda,” katanya. Ekonomi daerah penghasil knalpot itu pun tumbuh 7 persen per tahun, dengan PAD naik dari Rp 8 miliar pada 2000 menjadi Rp 47 miliar tahun lalu.

Menurut Robert Simanjuntak, ekonom UI yang banyak meneliti daerah, dari 460 wilayah tingkat dua, kabupaten yang punya program bagus tak sampai 10 persen. Padahal daerah itu rata-rata punya kas cekak. Kreativitas para bupatilah, kata Robert, yang membuat daerahnya berkilau di era otonomi selepas krisis ini.

Zaman telah berubah. Kesenjangan antara daerah kaya dan daerah miskin kian lebar. Sebelum otonomi (1 Januari 2001), rasio anggaran daerah terkaya hanya tujuh kali daerah termiskin. Kini 15 kali: APBD kabupaten terkaya di negeri ini mencapai Rp 3,7 triliun, sedangkan termiskin Rp 200 miliar.

Sayangnya, dalam pelbagai penelitiannya, Robert menemukan bahwa daerah kaya cenderung menghamburkan duit bukan untuk sektor layanan publik atau subsidi. ”Tujuh puluh persen anggaran habis untuk biaya rutin, seperti gaji dan membangun gedung megah,” katanya. Ya, modal tanpa kreativitas adalah kesia-siaan.

Sumber : Majalah Tempo Edisi 23-29 Juli 2007

Oleh: rindo | Maret 2, 2007

FILSAFAT ILMU

Filsafat Ilmu
 

Bismilahirrahmanirr ahiim,
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Al Quran Al Karim Surah Ali Imran ayat 190-191)

1. Merenungkan Penciptaan Langit dan Bumi, dan bergantinya siang dan malam
Ada sunatullah, hukum-hukum alam, formulasi fisika, pola serasi yang membina langit dan bumi. Ilmu yang kita punya semata-mata hanya merupakan interpretasi dari semua itu

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Al Quran Al Karim Surah Ar Rahman ayat 7-9)

2. Mencari Tanda-tanda Kebesaran Allah

“Tafakkaru fii khalqillah wa laa tafakkaru fi dzatillah”

Ah, sepandai-pandainya engkau, sekali lagi, yang sedang kau pelajari hanya tanda-tanda kebesarannya. Di cakupan ruang dan waktu ini, kau hanya sedang belajar tentang ayat-ayatNya, hingga saat nanti Ia izinkan engkau bertemu denganNya.

3. Mereka berpegang pada iman sebagai akar ilmu à melahirkan ketekunan
Berpegang pada patok iman, agar kau tak terlempar jauh dan tak bisa kembali. Saat ada hubungan yang belum kau temukan kaitannya, kembalikan kepada Sang Penguasa Yang Maha Tahu segalanya. Ia akan anugerahkan engkau ketekunan dalam lingkaran luas yang sejuk.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Quran Al Karim Surah Al Qashash ayat 80)

4. Memanfaatkan ilmu à sebuah interpretasi amal à melahirkan teknologi
Silahkan merambah lahan ilmu seluas-luasnya, tapi agar ada manfaatnya, amalkan, interpretasikan dalam karya, yang biasa kita sebut sebagai teknologi. Agar perguruan tinggi tak jadi menara gading, agar semakin tinggi ilmu, semakin terang pula cahaya pencerahan pada masyarakat awam.

5. Penghambaan
Setelah kau dapatkan, tunduk sujud. Karena semakin kau tahu, semakin sadarlah engkau bahwa dirimu tak setara setitik debu di lautan ilmuNya yang Maha Luas. Kau mintakan padaNya agar ilmu tak membawamu kepada logika tak bertuan. Kau mintakan agar ilmuNya menjaga ilmu yang diamanahkan padamu.

Selamat Mencari Ilmu,
Allahu’Alam

Sumber : http://groups. yahoo.com/ group/anggotaicm i/message/ 4332

Oleh: rindo | Januari 6, 2007

AGAR BEBAS DARI PRASANGKA

Kebanyakan orang menerima apa pun yang mereka peroleh dari ilmuwan sebagai kebenaran sejati. Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa ilmuwan pun mungkin memiliki berbagai prasangka filosofis atau ideologis. Pada kenyataannya, ilmuwan evolusionis telah memaksakan prasangka dan pandangan filosofis mereka kepada masyarakat luas dengan kedok ilmu pengetahuan. Misalnya, meskipun sadar bahwa kejadian acak hanya akan menghasilkan ketidakteraturan dan kekacauan, mereka tetap menyatakan bahwa keteraturan, perencanaan dan desain yang sangat mengagumkan pada jagat raya dan makhluk hidup terjadi secara kebetulan.

Sebagai contoh, ahli biologi semacam ini akan dengan mudahnya menemukan keselarasan yang menakjubkan pada molekul protein, bahan penyusun kehidupan, dan molekul ini sama sekali tidak mungkin muncul secara kebetulan. Meski demikian ia malah menyatakan bahwa protein ini muncul pada kondisi bumi yang primitif secara kebetulan miliaran tahun yang lalu. Tidak cukup sampai di sini, ia juga menyatakan tanpa keraguan bahwa tidak hanya satu, tetapi jutaan protein terbentuk secara kebetulan, dan selanjutnya secara luar biasa bergabung membentuk sel hidup pertama. Lebih jauh lagi, ia berkeras mempertahankan pandangannya secara fanatik. Orang ini adalah ilmuwan “evolusionis”.

Jika ilmuwan yang sama melewati sebuah jalan datar, dan menemukan tiga buah batu bata bertumpuk rapi, tentunya ia tidak akan pernah menganggap bahwa ketiga batu bata tersebut terbentuk secara kebetulan dan selanjutnya menyusun diri menjadi tumpukan, juga secara kebetulan. Sudah pasti, siapa pun yang membuat pernyataan seperti itu akan dianggap tidak waras.

Lalu, bagaimana mungkin mereka yang mampu menilai peristiwa-peristiwa biasa secara rasional, dapat bersikap begitu tidak masuk akal ketika memikirkan keberadaan diri mereka sendiri?

Sikap seperti ini tidak mungkin diambil atas nama ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan, jika terdapat dua alternatif dengan kemungkinan yang sama mengenai suatu masalah, kita diharuskan mempertimbangkan keduanya. Dan jika kemungkinan salah satu alternatif tersebut jauh lebih kecil, misalnya hanya 1 %, maka tindakan yang rasional dan ilmiah adalah mengambil alternatif lainnya, yang memiliki kemungkinan 99 %, sebagai pilihan yang benar.

Mari kita teruskan dengan berpegang pada pedoman ilmiah ini. Terdapat dua pandangan yang dapat dikemukakan tentang bagaimana makhluk hidup muncul di muka bumi. Pandangan pertama menyatakan bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah dalam tatanan yang rumit seperti sekarang ini. Sedangkan pandangan kedua menyatakan bahwa kehidupan terbentuk oleh kebetulan-kebetulan acak dan di luar kesengajaan. Pandangan terakhir ini adalah pernyataan teori evolusi.

Jika kita mengacu kepada data-data ilmiah, misalnya di bidang biologi molekuler, jangankan satu sel hidup, salah satu dari jutaan protein di dalam sel tersebut sangat tidak mungkin muncul secara kebetulan. Sebagaimana juga akan diilustrasikan dalam bab-bab berikutnya, perhitungan probabilitas telah berkali-kali menegaskan hal ini. Jadi pandangan evolusionis tentang kemunculan makhluk hidup memiliki probabilitas nol untuk diterima sebagai kebenaran.

Artinya, pandangan pertama memiliki kemungkinan “100 %” sebagai suatu kebenaran. Jadi, kehidupan telah dimunculkan dengan sengaja, atau dengan kata lain, kehidupan itu “diciptakan”. Semua makhluk hidup telah muncul atas kehendak Sang Pencipta yang memiliki kekuatan, kebijaksanaan dan ilmu yang tak tertandingi. Kenyataan ini bukan sekadar masalah keyakinan; ini adalah kesimpulan yang sudah semestinya dicapai melalui kearifan, logika dan ilmu pengetahuan.

Dengan begitu, sudah seharusnya ilmuwan “evolusionis” tadi menarik pernyataan mereka dan menerima fakta yang jelas dan telah terbukti. Dengan bersikap sebaliknya, ia telah mengorbankan ilmu pengetahuan demi filsafat, ideologi dan dogma yang diikutinya, dan tidak menjadi seorang ilmuwan sejati.

Kemarahan, sikap keras kepala dan prasangka “ilmuwan” ini semakin bertambah setiap kali ia berhadapan dengan kenyataan. Sikapnya dapat dijelaskan dengan satu kata: “keyakinan”. Tetapi keyakinan tersebut adalah keyakinan takhayul yang buta, karena hanya itulah penjelasan bagi ketidakpeduliannya terhadap fakta-fakta atau kesetiaan seumur hidup kepada skenario tak masuk akal yang ia susun dalam khayalannya sendiri.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori